skip to main |
skip to sidebar
.
Smile! adalah majalah internal Sinar Mas. Sebetulnya layout seperti ini agak aneh, tetapi saya ingin sekali kali memberikan suasana segar, fun kepada pembacanya. Layout ini bukan karya terpilih, hanyalah salah satu alternatif yang terbuang. Tetapi saya menyukainya, dan memimpikan suatu hari layout ini akan terbit, who knows?
Alkisah pada awal abad 20 (1930) seusai menyelesaikan pendidikan SD, seorang anak memulai bisnisnya dengan modal STTB (surat tanda tamat belajar) dan berdagang secara berkeliling. Setelah 80 tahun, apa yang dihasilkan oleh anak itu cukup mencengangkan; menjadi orang terkaya ke-3 di Indonesia. Padahal jika dilihat lagi ke belakang, dia memulai semuanya dari nol.
Saya sendiri pun pernah mempelajari bisnis dengan menjajakan mainan di sebuah Rumah Sakit, ketika itu saya berumur 9 tahun. Setelah 1 tahun saya mendapatkan profit 200% dari modal awal termasuk lemari show case. Bila dibandingkan dengan anak yang tadi, tentu kisah saya tidak ada apa-apanya. Tetapi apa yang menjadi benang merah kedua kisah itu? Ya, bisnis tidak mengenal batasan usia bahkan modal.
Buku ini, Mempelajari Dunia Bisnis adalah buku yang memberikan pelajaran dan pengetahuan bagi anak SMU dan SMK untuk belajar bagaimana membangun dan manjalankan sebuah usaha bahkan perusahaan.
Okay, masuk ke konsep. Inti dari buku ini adalah mempelajari bagaimana cara berbisnis bagi orang awam. Karena itu saya menganalogikan bisnis sebagai pakaian yang rapi. Akhirnya eksekusi dilakukan dengan memperlihatkan orang yang belajar memakai dasi.
Berhubung tidak ada foto, dan ngga sempat mengadakan foto shoot... terpaksa memakai image stock saja
Karya ini tidak sempat terpublikasi, berhubung klien lebih menyukai desain alternatif saya lainnya, tetapi saya tetap melihat desain ini lebih baik.
Hanya 2,2 juta jiwa dari 234 juta penduduk Indonesia yang merasakan bangku SMP, belum lagi yang sampai ke ingkat S1, pasti akan lebih sempit lagi. Padahal, kunci dari kesuksesan pembangunan bangsa adalah pendidikan.
Eka Tjipta Foundation (ETF) memberikan perhatian khusus pada masalah pendidikan di Indonesia ini. Pertama tama Ferdian membantu ETF membuat konsep ILM/PSA untuk media cetak. ILM ini setidaknya ingin menyuarakan visi ETF kepada masyarakat. Layout memang dibuat kosong, kenapa? seperti yang kita tahu, di halaman media massa pasti akan banyak dengan halaman yang terasa PENUH. setidaknya layout ini diharapkan akan memberikan tekanan yang lebih kuat.
Iklan ini adalah project yang lumayan lama (2006) dan belum pernah terpublish karena terdapat beberapa revisi yang merubah iklan ini jau....h dari konsep awal, tetapi setidaknya Ferdian ingin memberikan share kepada kalian.
Ada suatu kumpulan anak norak yang memiliki tujuan mulia, mereka berkumpul, belajar Alkitab, belajar mengenal Jesus lebih dekat. Tetapi kegiatan mereka tidak berhenti sampai situ saja, mereka juga aktif keluar masuk kampung kumuh, berusaha menghibur orang orang yang memandang hidup ini tidak ramah lagi. Setidaknya dengan kegiatan mereka, masyarakat miskin ini bisa merasakan bahwa mereka tidaklah sendiri.. masih ada Jesus yang mengasihi kita.
Yah, kumpulan anak norak itu adalah GCF (Great Commision fellowship), terdiri dari anak kampung, metropolitan, seberang pulau, seberang negeri (untung ngga seberang planet), bule, asia, indonesia, jawa, mbak-mbak, mas-mas, tante, om, meneer (apa lagi yang kurang?).
Suatu hari mereka memberikan permintaan pada ferdian untuk membikin logo, setelah bertapa selama 1 hari penuh dikurang 23 jam, Ferdian mengajukan proposal pertama:
Konsepnya: kumpulan orang yang bergandengan tangan bersatu membentuk salib, Orang orang inilah masyarakat gereja kita, pengiman Kristus. Aksentuasi orange di salah satu orang yang bergandengan adalah komunitas GCF. GCF adalah salah satu bagian dari gereja yang ikut mempersatukan iman.
Konsep pendukung; aktivitas bergandengan tangan ini dapat digunakan setiap aktivitas yang mereka adakan.
Nice concept huh?
ferdian memutuskan memberikan alternatif ke 2, setelah bertapa lagi di toilet, timbul ide cerita berikut:

Konsepnya: Kotak kotak ini ada berbagai ukuran, melambangkan komunitas kita tidak sama, tetapi tetap 1 tujuan: Kristus. yah, kembali lagi ke bentuk salib, kenapa? karena Salib ini adalah simbol yang paling komunikatif untuk mencitrakan Kristen atau katholik. Warna orange mengesankan jiwa muda, menyala nyala, modis, mbois.
Yah setelah diadakan PilLoOg (pemilihan logo organisasi, jayus amat sih) mereka pada suka yang nomor 2, menurut pembaca gimana? kasih comment yah.
ps: buat temen temen GCF, moga2 kita bisa pelayanan bareng ye